Sebenarnya gw disini hanya mencoba berbagi, apa saja yang telah ” Mocca “ lakukan. Mocca pernah diundang manggung ke beberapa negara, diantaranya : Singapore, Malaysia, Thailand, dan Jepang. Jika Mocca bisa, Band Loe pun seharusnya bisa.
Walaupun bukan berarti Mocca merupakan ahli dalam urusan ” Go Internasional “, banyak juga hal yang Mocca belum ketahui. Gw disini hanya menggambarkan dari satu sudut pandang saja dari berbagai kemungkinan untuk melakukan go internasional. Sekarang ini banyak sekali versinya.
Apakah main di luar Indonesia dihadapan sekumpulan orang Indonesia juga merupakan suatu langkah ‘Go Internasional?’ Ada yang mengganggap iya, ada juga yang menganggap tidak. Itu terserah dari penilaian dan anggapan masing-masing pihak saja. Sekarang tugas band loe sebagai musisi hanya membuat musik sebagus-bagusnya dan melupakan statement pembenaran yang membuat band loe menjadi cepat berpuas diri, seperti :“ Ternyata musik Indonesia sudah maju, dan tidak kalah dengan musik di luar negeri sana ”.
Berikut ini beberapa tips-tips dari gw buat band loe bisa Go International :
1. Menciptakan karya yang bagus, disini maksudnya orisinil.
Untuk saat ini loe2 tak perlu berbangga dengan pernyataan: “ band loe adalah U2-nya Indonesia ”, atau ” Muse-nya Indonesia ”. Secara logika, buat apa mereka mengundang loe kalau hanya meng-copy band lain? Padahal mereka bisa dengan mudah mengundang band aslinya. Membuat lagu pun seharusnya tidak terikat batasan. Tidak terpatok bahasa maupun jenis musiknya.
Banyak yang beranggapan bahwa untuk Go Internasional haruslah menggunakan Bahasa Inggris. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Walaupun tidak dipungkiri lirik Mocca memang kebanyakan ber-Bahasa Inggris dan pada kenyataannya sangat memudahkan kita pada saat terjun ke lapangan di negara lain. Hal ini terbukti sangat berguna, terutama dalam komunikasi dengan audience/teknisi panggung maupun dengan penonton.
Ada pula anggapan bahwa musik etnik tradisional lebih mudah menembus luar negeri, sebenarnya hal tersebut tergantung dari event yang akan dihadapi dan siapa saja yang akan hadir pada saat pertunjukan. Saat ini banyak sekali referensi musik yang dapat membantu loe2 dalam menciptakan serta mengolah suatu karya. Cobalah membuat musik yang bagus!
(Kecenderungan di Indonesia adalah bagaimana membuat ’musik yang laku’. Perlu kita sadari bahwa musik yang laku belum tentu bagus, sebaliknya musik yang bagus, belum tentu laku.)
2. Rajin mencari Link Record Label.
Kini sangatlah mudah untuk mencari berbagai link melalui fasilitas internet. Loe bisa mempromosikan band Loe lewat Website, My Space, Friendster, Mailing List, Blog, dan lain-lain. Banyak band Indonesia yang dirilis di luar negeri karena sukses mempromosikan bandnya via media tersebut. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, sebaiknya pilihlah record label yang se-genre dengan musik loe.
Jika band loe ber-genre indie pop, cari lah label yang biasa merilis band bergenre musik ini, misalnya: Fruit records, Rosemary Records, Elefant Records, dll. Pertimbangannya, mereka bisa men-treat dengan benar serta tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk mempromosikan band loe. Seperti memilih media yang tepat, menghubungi pihak yang kompeten berkenaan dengan musik loe di negara tersebut, hingga bentuk tour/concert yang ideal.
Kebanyakan indie label bergerak atas dasar subjektivitas yang tinggi. Mereka hanya akan merilis sesuatu yang benar-benar mereka sukai. Cara lainnya adalah rajin melihat majalah musik luar negeri, Record Label disana ada ribuan jumlahnya dan biasanya mereka mencantumkan alamat di majalah tersebut. Kirim rilisan band loe beserta data-data ke alamat tersebut. Semakin sering mengirim ke berbagai record label, semakin besar kemungkinan dirilis di luar sana.
3. Setelah band loe dirilis di negara tersebut, langkah selanjutnya adalah mencari informasi tentang Gigs, atau Promotor disana.
Jika memungkinkan, loe bisa meminta pada label yang merilis loe disana untuk membuat gigs promo/tur. Sepertinya kurang optimal apabila loe melakukan pentas di sebuah negara yang tidak merilis musik loe. Setelah orang menyaksikan gigs loe, biasanya mereka tergerak untuk mencari album loe di toko CD. Jika band loe telah dirilis di negara itu jelas hal ini akan berpengaruh baik ke angka penjualan.
Gw pribadi tidak terlalu concern dengan penjualan album di luar sana, hal ini lebih baik dipergunakan sebagai tolok ukur untuk mengetahui ‘ berapa jumlah orang yang secara antusias mendengarkan serta menghargai musik loe’ (Ini bukan statement pembenaran).
Syarat utama yang harus dipenuhi jika loe mendapat gigs di luar adalah: “ Siap berangkat dari nol lagi ”. Banyak band-band besar Indonesia yang ingin Go Internasional tapi tidak bisa menerima konsekuensi ini. Harus diingat biaya hidup negara satu dan lainnya berbeda. Jumlah personel yang ikut serta dalam rombongan jelas mempengaruhi biaya akomodasi. Hingga kadang untuk meng-optimalkan rombongan, loe harus berangkat tanpa anggota kru. Dari mengangkat hingga memasang peralatan harus dilakukan sendiri oleh para personel band.
Jangan pernah terpikir bahwa band yang main di luar negeri itu selalu mendapat fee yang lebih. Kadang-kadang justru band tersebut harus berswadaya untuk mencari dana. Mocca pernah melakukan hal ini pada tur Singapore-Malaysia 2005 lalu, lewat pencarian dana ke beberapa Clothing Company di Bandung. Serupa halnya dengan The S.I.G.I.T yang beberapa bulan kemarin melakukan tur di Australia.
Mungkin ada beberapa band yang fee nya dibayar lebih. Tapi bagi Mocca main di luar negeri merupakan sebuah petualangan dan pencarian pengalaman baru. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini : ” melakukan sesuatu yang kita senangi (main musik), tapi dibiayai jalan-jalan dengan gratis! “.
Disana loe dapat belajar untuk ‘membetulkan’ berbagai sistem yang selama ini sudah loe anggap benar, sebab ternyata masih banyak cara yang lebih tepat dan efisien untuk menjalankan sesuatu, seperti dalam hal pengoperasian sound system, tata cahaya, sistematika kerja di atas panggung/dibelakang panggung, sistem pre-produksi sampai sistem promosi yang baik dan benar. Bagi Mocca, sepulang main dari luar negeri secara otomatis wajib melakukan upgrade dalam sistematika kerja band. Hal ini sangat Mocca rasakan sepulang dari Singapura, sistem kerja mereka yang rapi, efisien, serta pemanfaatan fasilitas yang maksimal, membuat Mocca kini terbiasa untuk mempraktekkan etos kerja tersebut.
4. Setelah band loe mendapat undangan, jangan lupa mempersiapkan mental dan financial yang cukup.
Dari berbagai negara yang telah Mocca kunjungi, ada beberapa negara yang sangat strict serta menghargai ketepatan waktu. On-time! Ini adalah issue yang amat crucial di luar sana. Paspor, visa, fiskal, dan lain-lain, adalah urusan birokrasi yang juga harus kita persiapkan sejak jauh-jauh hari. Walaupun terdengar sepele, hal ini akan sangat menyita energi dan waktu, bahkan ada beberapa band yang sudah sampai tahap diundang, namun urung tampil karena tersandung oleh visa yang tak kunjung terbit.
Seperti yang sudah gw katakan di poin sebelumnya, tidak semua band yang diundang main ke luar negeri akan mendapatkan fee penuh, bahkan terkadang terpaksa membiayai sendiri perjalanannya. Mungkin ini saatnya bagi promotor besar di Indonesia (atau bahkan negara kita) mulai berpikir untuk meng-ekspor musisi Indonesia ke luar negeri. Ini merupakan promosi yang sangat baik untuk kepentingan bersama, seperti yang pernah dilakukan oleh Pemda Makassar dalam membiayai Fadly (vokalis dari band Padi) untuk tur bersama band Discuss keliling Eropa sebagai duta dari Makassar. Sebuah langkah bagus yang patut untuk ditiru.
I would never give up and never give in what I believe! [ Riko “Mocca” ]
Punya uneg2, idealisme atau sekedar cerita disekitar dunia musik? kirimkan ke Redaksi Pojok Simphony dan kami akan membantu menyuarakan opini kamu !






17 July 2008
saya punya band yang da jd 1 album…bagaimana kami harus melangkah..mohon bg yang bisa bantu..kami ga ngecewaiin kok…lagu kami komersil bgt…mohon dibantu…saptaviola@yahoo.com…..08563177522